Rabu, 10 Juli 2013

PENTINGKAN DIRIMU 

Dalam bulan suci Ramadan ada dua hal yang sangat penting dan perlu di ingat oleh umat muslim. Dua hal itu yakni keampunan dan rahmat yang terbuka lebar. Karena keampunan yang terbuka lebar tersebutlah kita sebagai umat muslim di anjurkan untuk meminta ampunan kepada Allah SWT dengan se ikhlas-ikksanya. Dan dengan rahmat yang terbuka lebar tersebut juga mari kita tingkatkan amal ibadah kita pada bulan suci Ramadan ini. Amal ibadah itu dapat berupa amal ibadah individual dan amal ibadah sosial.
Dibulan yang suci ini jangan sampai kita kotori dengan perbuatan dan tradis i-tradisi yang merusak nilai agama. Karena belakangan dirasakan banyak tradisi yang sudah melekat di masyarak Riau dan Pekanbaru pada khususnya yang sudah melenceng dari ajaran Agama Islam. Seperti pasangan muda- mudi yang berdua-duaan pada subuh hari padahal mereka bukan muhrimnya. Kegiatan iitu biasanya dikenal oleh masyarakat di Pekanbaru dengan sebutan Asmara Subuh (Asbuh).
Selain itu tradisi yang belakangan disalah artikan oleh masyarakat Riau adalah mandi balimau. Padahal jika di lihat dari sejarahnya mandi balimau merupakan simbol kebersihan. Dimana limau merupakan suatu simbol yang dapat mebersihkan kotoran seperti daki dan karat.
Tapi belakangan Simbol  dan tradisi itu sudah di salah artikan. Ini terlihat dengan banykanya masyarakat Riau yang mandi di sungai dengan bercampur aduk bahkan ada yang sambil pacaran . Ini jelas sangat memalukan. Kita malu sama umat non muslim yang melihat umat muslim yang katanya menjalankan ibadah  tapi di barengi dengan berbagai kegiatan yang menjurus kepada kemaksiatan. Selain itu air disungai yang di gunakan untuk mandi balimau itu juga  tidak menjamin kebersihannya.
Sebetulnya ada dua bulan yang sangat penting menjelang masuknya bulan suci Ramadan. Dua bulan itu adalah Bulan Rajab dan Bulan Sa'ban. Dimana pada bulan Rajab merupakan bulan pensucian jasad atau jasmani sedangkan bulan Sa'ban merupakan bulan pensucian hati atau rohani. Dengan adanya tradisi dan kebiasaan yang sudah disalah artikan tersebut maka jelas dua bulan tersebut sudah dikotori oleh umat muslim itu sendiri. Kotor jasmani karena kebersihan airnya dan kotor hatinya karena perbuatanya.
Selain hal diatas, pada Ramadan 1434 H tahun 2013 ini kita umat muslim di Provinsi Riau juga dibarengi dengan adanya pesta demokrasi pemilihan kepala daerah dan pemilihan Gubenur Riau. Ini menjadi perhatian semua pihak untuk saling menjaga kesucian bulan Ramadan. Karena kita tidak ingin bulan suci Ramadan di jadikan sebagai ajang untuk berkampaye. Kita tidak ingin Ramadan kali ini ada dimasuki oleh nuansa politik. Kepada semua pihak kiranya dapat sama-sama menjaga kesucian Ramadan ini. Jangan jadikan ramadan sebagai ajang untuk kepentingan bagi para calon untuk berkampanye.
Kepada masyarakat dan pengurus masjid serta lembaga dakwah kiranya dapat lebih hati-hati lagi terhadap selebaran, panduk yang disebarkan dan dipasang di masjid dan mushalla dengan embel-embel ucapan selamat Ramadhan namun juga disertai dengan foto para calon kepala daerah dan Gubenur. Belakangan juga sudah dijumpai banyaknya jadwal imsakiyah yang memampang foto para caleeg, dan cagub yaang disebar ke masyarakat. Ini jga jangan sampai masuk kerumah ibadah dan juga jangan sampai mengurangi nilai Ramadhan itu sendiri.
Terlepas dari itu semua, kita sebagai masyarakat Riau harus bersyukur dan mari kita maknai Ramadan yang bertepadan dengan pemilihan Gubernur Provinsi Riau kali ini sebagai masa pemilihan pemimpin yang suci. Karena di saat setelah jutaan masyarakat Riau melaksanakan puasa dengan bersih mereka memilih seorang pemimipin yang tentunya harus bersih pula.
Akhirnya jadikan Ramadan tahun ini sebagai bulan pembersih diri untuk mendapatkan sa,faat dan ampunan dari Allah SWT. (*)

10 Hal yang Mendatangkan Cinta Allah


Cinta Allah
Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya.



Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin. Saudaraku, sungguh setiap orang pasti ingin mendapatkan kecintaan Allah. Lalu bagaimanakah cara cara untuk mendapatkan kecintaan tersebut. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa hal untuk mendapatkan maksud tadi dalam kitab beliau Madarijus Salikin.

Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an, pen]

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib.  Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.

Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.

Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.

Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah,  fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).

Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.

Ketujuh, -inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.

Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian  dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.

Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.
Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Sumber: Madaarijus Saalikin, 3/ 16-17, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Darul Hadits Al Qohiroh